moto

BLOG'S "SAK ENENGE" IKI, ORA KANGGO NDADEKNE SENGSORO LIYAN..OPO MANEH GAWE NGRUSAK LIYAN.....
NEK ONO GUNANE AYO DI JUPUK..MENOWO ORA ONO GUNANE YO WIS... OJO DILEBOKKE ATI....

UNGELAN PAMBUKO

SUGENG RAWUH SEDEREK SEDOYO....
MUGIO PINARINGAN RAHAYU
WILUJENG NIRSAMBIKOLO

Selasa, 26 April 2011

PENGALAMANKU

**  Cuci Otak Ala Teroris...?  **


Pertengahan tahun 1999 adalah tahun antara hidup dan matiku, kenapa ? Di tahun itulah, saya masuk sebuah kelompok pengajian (yang saat ini dikatakan “Teroris”). Adalah waktu itu, salah satu teman mengajak saya untuk ikut pengajian, dan tanpa pikir panjang, saya bersedia untuk mengikuti pengajian tersebut untuk menambah pengetahuan.



Sesuai yang dikatakan teman, bahwa pengajian tersebut “guru”nya akan datang ke tempat saya, karena "menurut" teman saya “guru” tersebut menjalankan dakwahnya menyebarkan islam tanpa minta imbalan.

Beberapa hari kemudian, pengajian diadakan di tempat saya bekerja yang dilaksanakan pada malam hari antara pukul 21.00 – 23.00 dan waktu itu muridnya cuma 2 orang, yaitu saya dan teman saya tersebut, sementara “guru” ngajinya ada 2 orang dan sesuai perkenalannya waktu itu berasal dari Kudus, dan saat itu si “guru” berdomisili di sekitar P********N  Jakarta Selatan.

Sebelum pengajian dilaksanakan, saya ditanya oleh “guru” ngaji itu. Apakah anda anaknya Polisi..? saya jawab : Tidak. Kemudian si “guru” ngaji tanya lagi, apakah anda anaknya TNI ? saya jawab : Kalau anaknya TNI, mungkin saat ini saya sudah menjadi tentara. Kemudian si “guru” ngaji tanya lagi, apakah anda anaknya PNS..?. Saya jawab : Tidak.

Tak begitu lama, pengajian dimulai, tapi ada yang ganjil dalam pengajian tersebut, karena jendela tidak boleh dibuka dan pintu juga harus ditutup. Saat itu saya sempat bertanya, mengapa pengajian ini, jendela dan pintu harus tertutup, bukankah pengajian ini bersifat umum?. Si “guru” menjawab : pengajian ini ibarat hidup di jaman Rosul, yang menyampaikan dakwah malam hari dan bersembunyi di gua Hiro’. Begitu jawaban si “guru” ngaji tersebut.

Setelah menjawab pertanyaan tersebut, pengajian dimulai. Untuk membuka pengajian si “guru” bertanya kepada saya, apa dasar negara anda? (Dalam hati saya sempat bertanya, lha wong pengajian kok tanya dasar negara), tetapi waktu itu saya diam dan langsung saya jawab : Pancasila.

Akhirnya di papan tulis si “guru” menjelaskan perbandingan antara dasar negara Pancasila (RI) dengan Piagam Madinah (Negara Islam Indonesia – NII) ( seperti yang tertulis di papan tulis) . Si “guru” mengatakan bahwa Pancasila itu adalah thogut, yaitu dasar negara yang bengkok, karena thogut disamakan dengan toge, jadi mana ada toge itu lurus. Saat itu si “guru” menjelaskan dengan argumen Ayat Al Qur’an, namun saya lupa, surat apa dan ayat berapa.

Akhirnya pengajian terus berjalan hingga 1 bulan lamanya, dan berikut ini ayat-ayat Al Qur’an  (Surat At Taubah) yang sempat saya catat dalam pengajian “cuci otak"  tersebut.

Ayat tersebut dalam catatan, saya tulis dengan angka. Namun disini saya tulis berikut terjemahannya.

Al Qur'an Surat At Taubah

1.  (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) Telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).
9.  Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.

12.  Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca
 agamamu, Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, Karena Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

14.  Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

16.  Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

20.  Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

21.  Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,

22.  Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

23.  Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

24.  Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

29.  Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah, dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

38.  Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

39.  Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

41.  Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.

44.  Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.

49.  Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (Tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." Ketahuilah bahwa mereka Telah terjerumus ke dalam fitnah. dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.

56.  Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa Sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).

61.  Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.

63.  Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya nerakan Jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. itu adalah kehinaan yang besar.

66.  Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

70.  Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah            musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, Maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

72.  Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

73.  Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

77.  Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, Karena mereka Telah memungkiri terhadap Allah apa yang Telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga Karena mereka selalu berdusta.

80.  Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

81.  Orang-orang yang ditinggalkan (Tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka Mengetahui.

93.  Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah Telah mengunci mati hati mereka, Maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).

102.  Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima Taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

                                     -------------------

Dalam pengajian tersebut di singgung tentang orang mukmin dan bukan orang mukmin, bahkan ketika si “guru” menjelaskan tentang ayat-ayat itu, si “guru” menanyakan kapada saya : Orang mukminkah anda…? Saat itu saya tak bisa menjawab dan hanya diam, karena berkecamuk dalam diri saya, antara pengakuan orang mukmin, atau malah sebaliknya orang kafir.  Si “guru” berkata : saya tidak meminta anda untuk menjawab, jawablah dengan hati anda sendiri.

Saat itu dalam diri saya berpikir, apakah teman-temanku itu juga kafir semua …? Pengajian terus berlanjut hingga menyangkut posisi orangtua, si “guru” menjelaskan bahwa orang tuapun bisa kafir, si “guru” berargumen bahwa Nabi Ibrahimpun menegakkan agama Alloh kepada orang tuanya (Azhar).

Ketika pengajian sudah berjalan hampir 1 bulan, si “guru” menanyakan, ada pertanyaankah dengan pengajian ini?. Kemudian saya bertanya beberapa hal : 

1. Konsep Piagam Madinah memang bagus, tetapi kenapa konsep Piagam Madinah ini tidak kita
    sampaikan kepada Gus Dur (waktu itu presiden) untuk mengganti Pancasila ?

2. Kenapa pengajian ini tidak boleh diikuti anak-anaknya PNS, TNI dan POLRI ?

3. Sesuai Q.S Al Hujurot 10, bukankah orang mukmin itu bersaudara, mengapa selain kelompok kita
   ini, dianggap kafir ?
Dengan pertanyaan 3 point dari saya itu, jawaban si “guru” tidak memuaskan hati saya, dan ketika hari-hari terakhir pengajian, si “guru” bilang, kalau saya mau dibai’at, dan akan diperkenalkan dengan “guru” yang lebih paham tentang pertanyaan saya itu.

Akhirnya saya menolak untuk bergabung dengan pengajian ini, karena tidak sesuai dengan hati nurani saya dan menolak untuk dibai’at. Hampir 1 bulan lamanya terus membujuk saya, untuk ikut terus dalam pengajian tersebut.

Sementara teman saya yang satu, menanyakan kepada saya, apakah meneruskan pengajian ini, atau tidak. Kemudian saya katakan kepada dia, “kalau saya tidak mau, tetapi jika kamu mau meneruskan, silakan,  saya tidak menyuruh dan tidak melarangmu”. Akhirnya teman saya inipun juga tidak melanjutkan pengajian ini.

Seperti kita ketahui, tahun 2000 terjadi pengeboman di tempat-tempat ibadah saudara-saudara kita, yang dilakukan serentak. Saya baru “ngeh” beberapa tahun kemudian ketika tersebar berita tentang “terorisme”.  Seandainya saya teruskan pengajian tersebut, saya tidak tahu, apakah saya masih hidup sampai saat ini.

Demikian sepenggal pengalaman saya, (mungkin) yang akhir-akhir ini gencar diberitakan di media.  Namun dalam hati saya, semoga pengajian saya itu, bukan untuk tujuan hal itu. Bagi saya yang lalu biarlah berlalu, hal ini untuk pelajaran bagi diri saya, terutama anak-anak saya. Akhir kata "Sing Becik Bakal Ketitik, Sing Olo Bakal Ketoro".


                                     -----------  ^_^ ----------

3 komentar:

  1. Waduuuuuh guru nopo niku pak???? jian mengerikan xixixixixiixi

    BalasHapus
  2. @Tarry : Jarene guru ngaji..... tp yo ngono kuwi...

    BalasHapus
  3. Guru : jo angger digugu jo angger ditiru ...

    BalasHapus