moto

BLOG'S "SAK ENENGE" IKI, ORA KANGGO NDADEKNE SENGSORO LIYAN..OPO MANEH GAWE NGRUSAK LIYAN.....
NEK ONO GUNANE AYO DI JUPUK..MENOWO ORA ONO GUNANE YO WIS... OJO DILEBOKKE ATI....

UNGELAN PAMBUKO

SUGENG RAWUH SEDEREK SEDOYO....
MUGIO PINARINGAN RAHAYU
WILUJENG NIRSAMBIKOLO

Jumat, 26 November 2010

ENGKAU LEBIH MEMBUTUHKAN



Ketika perang sedang berkecamuk di padang pasir yang gersang dan panas menyengat,  seorang mujahid terluka parah. Dengan sisa tenaga yang ada, sambil menahan rasa sakit akibat sabetan pedang lawan, dia merintih.

“Berikan aku air…. berikan aku air……”, kata Mujahid.

Tidak lama, seorang perempuan mendengar rintihan mujahid itu dan mencoba mencari suara rintihan itu diantara puluhan jasad mujahid yang mati syahid.

Rabu, 24 November 2010

GORO-GORO



*****  GORO-GORO *****

Dumadine goro-goro
Amergo soko polahing manungso
Tumindak dur angkoro
Ngebaki kareping karso

Kamis, 11 November 2010

Sak Senenge Dewe


Wayang Kulit 
Lakon : Janoko Lelono.
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Setelah selesai GORO-GORO, seperti biasanya muncul punokawan. Tujuan dari punokawan ini adalah menghibur ndoro-nya dikala sedih, memberi petunjuk dikala ndoro-nya sedang mengalami masalah yang berat.

Disaat ditengah hutan belantara, Janoko yang lagi mencari kakaknya kecapek’an dan duduk diatas batu. Maka punokawan tersebut sambil gojegan menghibur ndoro-nya, untuk melepas penat. Selesai gojegan, dipanggillah si Bagong untuk mendapat hadiah uang dari Janoko. 

Sak Senenge Dewe

Wayang Kulit 
Lakon : Janoko Lelono (tamat)
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Beberapa minggu sudah, raden Janoko mencari kakaknya sang Werkudoro, menyusuri hutan belantara, melintasi lembah dan ngarai. Dalam perjalanan ini seperti biasa, Janoko akan mendapat halangan dan rintang dari buto cakil, dan dalam perang tersebut sesuai pakem Janoko-lah yang menang, sementara buto cakil mati dengan kerisnya sendiri.

Setelah melewati perang tersebut, tidak beberapa lama, dari kejauhan dilihatlah sebuah padepokan sederhana, dinding dari kayu, atap dari alang-alang. Janoko mendekati padepokan tersebut, tidak disangka, ternyata di cakruk telah ada anak-anak Werkudoro sendiri, yang antara lain Ontorejo, Gatotkoco dan Ontoseno. Juga tidak ketinggalan jago kepruk dari Negara Dworowati yang berjuluk Bimo Kunthing atau Raden Sentyaki.

Sak Senenge Dewe


Wayang Kulit 
Lakon : Janoko Lelono (lanjutan)
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Setelah berhari-hari menjelajahi hutan belantara, Arjuno belum juga menemukan tempat kakaknya sang Werkudoro yang lagi menyebarkan adeg-adegking urip, mbabar ngelmu kasampurnaning urip, yang berjuluk Begawan Bimo Suci, yang terletak di lereng gunung Argo Keloso.

Perjalanan memakan waktu berhari-hari, kerana memang tidak ada pesawat, angkutan umum, ojeg, ataupun andong dan hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki. Ditengah terik matahari yang menyengat itu, istirahatlah sang Arjuno dibawah pohon yang rindang, sambil kipas-kipas pake topi yang berlogo salah satu stasiun TV swasta negara Amarto.


Buat Orang Yang Saya Kagumi "Mbah Maridjan"




Wis lilakno aku lungo…
Saiki wis rapet  mripatku…
Saiki wis kaku ragaku…
Saiki wis nggeget kenceng untuku…

Wis lilakno aku lungo…
Lungaku amung sangu darmo bekti…
Lungo marang pangayomane Gusti…
Kang bakal nompo piwales karono budi pekerti…
Samubarang kang wus tak lakoni…

Wis lilakno aku lungo…
Juru pati wus antuk dawuh soko Gusti…
Tumuju marang wak mami….

Wis lilakno aku lungo…
Tembang megatruh wus di tembangno…
Perlambang uripe manungso wis paripurno…
Netepi janji suci duk rikolo semono…

Wis lilakno aku lungo…


Sabtu, 06 November 2010

Sak Senenge Dewe



 Wayang Kulit 
Lakon : Durno Wuyung.
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Padepokan Sukolimo saat ini lagi dilanda isu,  karena ada salah satu sinden…, yang mengaku telah menjalin asmara dengan sang Pendito. Tak ayal lagi, si sinden membuat semacam jumpa pers, menceritakan kisah asmaranya dengan sang pendito.

Kenapa sampai si sinden menggelar jumpa pers…? Disebabkan karena (menurut si sinden) tidak ada semacam klarifikasi atau semacam pengakuan dari si Pendito itu.  Sebenarnya kisah asmara tersebut sudah lama, namun memang kenapa baru sekarang si sinden ini mengumbar aibnya sendiri. Entahlah…., mungkin dulu mau membuka aib itu takut…, klo dikeluarkan dari tempat dia nyecep ngelmu.


Sak Senenge Dewe


Wayang Kulit 
Lakon : Duryudono Ngambek.
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Saat ini, negara Astinopuro lagi gonjang-ganjing, karena disebabkan oleh salah satu ekspornya yaitu mie instan dilarang masuk oleh negara Tairin, karena menurut negara Tairin tersebut, mie instan dari Astino tidak memenuhi standar kesehatan, lantaran mengandung banyak bahan pengawet. Hal inilah yang menyebabkan Prabu Duryudono ngambek, karena bisa dipastikan nilai ekspor akan turun dan tidak bisa memenuhi target  untuk tahun ini, karena mie instan salah satu ekspor andalan negara Astino dalam kelompok non migas.

Untuk menyikapi masalah ini, maka dipanggillah dua dedengkot Astino, yang tidak lain adalah sang spiritual pendito Durno, dan pendamping setia prabu Duryudono yang tidak lain adalah patih Sengkuni.

Sak Senenge Dewe


Wayang Kulit 
Lakon : Prahoro Banjir Bandang Astino
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Sesi : Cangik dan Limbuk.

Negeri Astinopuro adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, murah kang sarwo tinuku, subur kang sarwo tinandhur. Namun negeri itu, akhir-akhir ini ketiban pagebluk, banjir dimana-mana, malah tempat pendito Durno di padepokan Sukolimo juga terkena banjir bandang. Dengan keadaan seperti itu, dua emban Astino yang lagi masak di dapur yang tak lain adalah Cangik dan Limbuk, merasa prihatin dengan keadaan itu.

Walaupun mereka berdua hanya pada tataran emban, namun jangan ditanya soal budi pekertinya. Rasa simpati dan empati mereka berdua sangat tinggi, hingga ikut merasakan penderitaan rakyat Astino yang lagi nandhang sengsoro akibat prahoro banjir tersebut. Walaupun Bethari Durgo yang menjadi ratu di kahyangan Gondhomayit sekaligus istri Betoro Guru, budi pekertinya masih kalah dengan si emban Cangik  dan Limbuk.


Sak Senenge Dewe


Wayang Kulit 
Lakon : Duryudhono Gugat
Gagrag : Bukan Surakarta, Bukan Yogyakarta, Bukan Banyumas, Bukan Jawa Timur - Tapi Sak Senenge Dewe
Dalang : Ki Arep Gelemrono.

Tersebutlah Negeri Astinopuro dengan raja bernama prabu Duryudhono. Beliau hari-hari belakangan ini sedang naik pitam, hal ini ora liyo-ora seje, yo mung mergo kekalahan timnas Sepak Bola Hastinopuro yang kalah telak melawan timnas negeri Urunggawe. Dengan kekalahan tersebut, dipangillah para punggawa negeri Astino untuk diadakan rapat evaluasi kinerja KONA (Komite Olahraga Nasional Astino) dan PSSA (Persatua Sepakbola Seluruh Astino).

Dengan suara agak berat, setengah marah,  prabu Duryudhono berkata, “Anda-anda telah menyaksikan betapa persepakbolaan negeri Astino tak berdaya, menghadapi kesebalasan yang tangguh dari negeri seberang. Sebenarnya hati saya mangkel bercampur getem-getem, melihat kasunyatan bahwa kesebelasan Astino terseok-seok, tapi hal itu cukup saya pendam dalam hati, sementara lahir saya menerima keadaan itu”.